Hampir satu minggu aku menghabiskan waktu di Pangkalan Bun, antara bandara dan hotel ... yang memang sengaja dipilih yg letaknya di tengah kota, dan ... dekat ke tempat makan, tentunya. Hampir setiap hari, setelah beres acara gawean dan nongkrong dari bandara ... kegiatan yang paling dicari adalah ngopi ba'da mandi sore ... hmmm nikmatnya aroma kopi tubruk yg mengepul panas di warung kopi seberang hotel, bisa menghilangkan kepenatan seharian terpanggang matahari ....
Entah apa nama warung makan, kedai atau restoran, atau apalah disebut orang ... aku sendiri tidak melihat ada nama yang terpampang disitu. Yang pasti orang-orang sudah hapal kalau disitu tempat buat ngopi sama makan. Menu khas rumahan, yang pasti aku nikmati di warung itu adalah ikan seluang atau ikan lais goreng kering ... semacam ikan wader (baca: jawa) atau ikan benteur (baca: sunda), yang biasa hidup di sungai dan berukuran relatif kecil. Ditemani lalapan segar dan cocolan sambal terasi ... serta sepotong rendang *halah* atau semur ampela ayam, pastinya menggugah selera makan-ku, apalagi disajikan dengan nasi putih panas yg pulen.
Siapa tahu pas ada kesempatan buat berkunjung ke Pangkalan Bun ... silahkan dicoba menu yang ringan dan murah meriah ... dijamin ngga' mbosenin dan sehat. Lokasi kedai, persis di seberang Hotel Tiara, di Jalan P. Antasari. Masih ada satu menu khas yg belum sempet dicobain, katanya ikan betok (papuyu) bakar ... hmmm, jadi penasaran.
Pangkalan Bun, Maret 2008